Jumat, 23 Desember 2011

Belasungkawa meninggalnya Kim Jong-il

Kematian Presiden Korea Utara Kim Jong-il mencuatkan pertanyaan sulit, tidak hanya kebijakan, tapi protokol, dengan negara besar terpecah tentang "keharusan" dan cara menyampaikan ucapan belasungkawa.


Amerika Serikat dan negara Barat lain sengaja menghindari kata "belasungkawa" dan menggantinya dengan pernyataan kepada "rakyat Korea Utara" setelah kematian penguasa itu, yang dipersalahkan atas kematian ribuan orang.

Tapi, sekutu Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang, yang memiliki hubungan tegang dengan Korea Utara dan langsung di garis bidik negara bersenjata nuklir itu, tetap menyampaikan ucapan belasungkawa melalui pernyataan resmi.





Korea Selatan, yang masih secara teknis berperang dengan Korut, juga menyatakan membolehkan kelompok swasta menyampaikan belasungkawa dalam upaya menjaga ketenangan, meskipun ada kekhawatiran mendalam atas penerus Kim Jong-il yang masih muda, Kim Jong-un.

China, sekutu utama Korea Utara, dengan cepat menunjukkan kesedihan dan Presiden Hu Jintao memberi hormat di kedutaan Pyongyang di Beijing.

Negara lain mengatakan mengirimkan pesan belasungkawa resmi, termasuk Rusia, Iran, dan India.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dalam pernyataannya setelah seharian memantau, mendesak pemimpin baru Korea Utara menempuh "jalan damai", namun tetap berpusat pada rakyat negara itu dan bukan pemimpinnya.



Jasad Kim Jong-il dalam peti kaca

"Kami sangat prihatin pada kesejahteraan rakyat Korea Utara dan pikiran dan doa kami bersama mereka pada masa sulit ini," kata Hillary.

Saat menjelaskan pernyataan itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland menyatakan itu "tanda keinginan dan harapan pada pemimpin baru tersebut".

Keputusan itu muncul saat pesaing dari Partai Republik mencoba menggambarkan permakluman Presiden Barack Obama terhadap musuh Amerika Serikat.

Ada preseden sejarah bagi perkara itu. Ketika Kim Il-sung, ayah Kim Jong-il dan pendiri bangsa tersebut meninggal pada 1994, Presiden Bill Clinton menyampaikan belasungkawa tulus kepada rakyat Korea Utara atas nama rakyat Amerika Serikat.

Clinton, yang berbicara kepada wartawan dalam kunjungan ke Italia, juga menyuarakan "penghargaan mendalam" bagi Kim Il-Sung untuk dukungannya atas pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Namun, Senator Republik Bob Dole yang gagal menantang Clinton untuk jabatan Gedung Putih dua tahun kemudian, menuduh presiden dari Partai Demokrat itu melupakan lebih dari 35.000 orang Amerika Serikat, yang tewas dalam perang Korea.

Anggota parlemen Demokrat pada saat itu memukul balik dengan mencatat bahwa Presiden Republik juga mengirim ucapan belasungkawa atas kematian orang kuat komunis Joseph Stalin dan Mao Zedong.

Media Korea Utara, Rabu lalu, menyatakan, mantan Presiden Jimmy Carter, Demokrat pejuang hubungan lebih baik dengan Pyongyang, mengirim belasungkawa pribadi kepada Kim Jong-un. Carter Center di Atlanta tidak menjawab permintaan tanggapan atas pesan itu.

Jack Pritchard, mantan perunding Amrika Serikat dengan Korea Utara, yang sekarang memimpin Lembaga Ekonomi Korea, menyatakan pernyataan Hillary "ditukangi sangat baik", karena terbuka untuk tafsiran, dengan pemimpin Korea Utara dapat melihatnya sebagai pesan belasungkawa jika mereka memilih demikian.

Tapi Scott Snyder, anggota penting di Dewan Hubungan Luar Negeri, menyatakan ada bahaya kepemimpinan Korea Utara membandingkan pernyataan pada 2011 dengan 1994.

"Keadaan benar-benar berbeda. Saya pikir dibenarkan tidak menyampaiikan belasungkawa atas Kim Jong-il," kata Snyder.

"Tapi, pada saat sama, saya pikir rakyat Korea Utara dapat betul-betul melihat yang mereka dapatkan sebagai langkah pendek dari sebelumnya," tambahnya.

Pernyataan resmi sangat penting untuk kepemimpinan Korea Utara, yang mengembangkan kultus kepribadian di sekitar wangsa Kim.

Tapi, pemerintah asing terhindar dari dilema tambahan saat Korea Utara menyiratkan pemimpin dunia tidak ikut dalam pemakaman Kim pada 28 Desember.

Peter Beck, anggota Dewan Hubungan Luar Negeri, menyatakan undang pencegahan Pyongyang menunjukkan bahwa penguasa itu kemungkinan memusatkan perhatian pada diri dan negaranya, bukan meneliti pesan dari luar negeri.

"Mereka betul-betul tidak peduli pada dunia sekarang. Mereka lebih peduli pada keadaan mereka," kata Beck.



China yang merupakan sekutu dekat Korea Utara (Korut) rupanya telah menerima kabar kematian Kim Jong-il lebih dulu. Duta Besar China untuk Korut disebut-sebut mendapat informasi intelijen soal meninggalnya Kim Jong-il pada Sabtu (17/12), atau dua hari sebelum pengumuman resmi dari pemerintah Korut.

Demikian seperti dilaporkan oleh surat kabar Korea Selatan (Korsel), JoongAng Ilbo dan dilansir oleh Reuters, Rabu (21/12/2011). JoongAng Ilbo sendiri menyebut informasi ini didapat dari sumber yang enggan disebut identitasnya.

Menurut sumber tersebut, Dubes China untuk Korut langsung melaporkan kepada pemerintah pusat di Beijing sesaat setelah mendapatkan informasi tersebut.

"Korea Utara memberitahukan kematian Kim kepada China melalui channel diplomatik pada hari itu juga," ujar sumber tersebut.
Pada Selasa (20/12) kemarin, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korsel memberikan pernyataan berbeda. Menurut juru bicara Kemlu Korsel Cho Byung-jae, China sama sekali tidak mengetahui kematian Kim Jong-il sebelum pengumuman resmi dari Korut.

Intelijen dan militer Korsel mendapat kritikan karena gagal mendapat informasi meninggalnya Kim Jong-il sebelum pengumuman resmi dari pemerintah Korut.

Kepala Badan Intelijen Nasional Korsel, Won Sei-hoon mengatakan kepada parlemen soal adanya kemungkinan China telah mendeteksi sinyalemen tersebut lebih awal, namun mereka tidak memverifikasinya lebih lanjut.

Terhadap hal ini, pemerintah China sendiri belum memberi tanggapan. Namun, sebelumnya pada tahun 2006 silam, pernah terjadi di mana pemerintah China mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu saat Korut hendak melakukan uji coba nuklir pertama kali. China telah mengetahui hal tersebut sekitar 20 menit sebelum uji coba dilaksanakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar