Sabtu, 16 April 2011

Kondisi Rusia sebelum meletusnya Revolusi Rusia 1917

Uni Soviet merupakan perserikatan negara-negara sosialis -komunis terbesar di dunia yang berada di bawah
pimpinan Rusia. Uni Soviet pernah menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia dan menjadi pesaing Amerika Serikat dalam mempengaruhi dunia dengan ideologinya. Amerika Serikat mengusung
ideologi liberalisme sementara Uni Soviet mengusung ideologi sosialis-komunis.
Uni Soviet pada akhirnya mengalami keruntuhan dan dibubarkan pada tahun
1991.
Dalam bidang politik pemerintahan, negara-negara Eropa lainnya telah
mengalami fase perubahan peta politik yaitu dengan terjadinya suatu revolusi.
Pengaruh revolusi Prancis telah memberikan inspirasi bagi negara-negara Eropa
lainnya untuk melakukan reformasi bidang pemerintahan. Beberapa negara
mengubah dirinya dari bentuk kerajaan menjadi bentuk Republik, dan negaranegara
yang tetap memilih bentuk kerajaan menyempurnakannya dengan sistem
monarki parlementer (kerajaan yang berdasarkan pada undang-undang). Dalam
bidang ekonomi, negara-negara Eropa lainnya telah melakukan lompatanlompatan
besar dalam perindustrian.
Dimulai dengan terjadinya revolusi industri di Inggris, semakin banyak
industri besar didirikan yang berdampak pada perubahan dalam sistem mata
pencaharian penduduk. Selain itu, perkembangan industrialisasi mendorong
negara-negara Eropa untuk melakukan kolonialisasi dan imperialisasi dengan
memiliki tanah jajahan. Demikian juga dengan kondisi sosial-kemasyarakatan,
masyarakat Eropa telah mengalami perubahan yang sangat besar sebagai
akibat perubahan budaya dari masyarakat petani menjadi masyarakat industri.
Tidak demikian halnya dengan yang terjadi di Rusia pada kurun waktu yang
sama. Rusia pada saat itu belum mengalami perubahan-perubahan seperti
apa yang sudah dialami oleh negara-negara tetangga Eropa lainnya.
Rusia pada saat itu masih berbentuk kerajaan dengan penguasanya adalah
Tsar Nicholas II. Pemerintahan Tsar Nicholas II dianggap sebagai pemerintahan
yang absolut yang tidak memperhatikan nasib rakyat. Keluarga Tsar beserta
pengikutnya selalu hidup dalam kemewahan dengan seringnya melakukan
pesta-pesta mewah di istana, sementara rakyat hidup dalam keserbatiadaan
dan kemelaratan.
Gelar Tsar mulai digunakan di Bulgaria oleh Simeon I pasca kemenangannya
dalam perang dengan kekaisaran Romawi timur pada tahun 913. Gelar
ini terus digunakan oleh penerusnya hingga jatuhnya Bulgaria ke tangan
kerajaan Ottoman pada tahun 1396. Setelah lepas dari Ottoman pada
tahun 1878, Monarkhi Bulgaria kembali menggunakan gelar tersebut antara
tahun 1908 dan 1946.
Gelar Tsar mulai digunakan di Rusia pada tahun 1547, ketika Ivan IV
mengganti gelar Veliki Knia menjadi Tsar sebagai lambang pergantian
bentuk negara Rusia pada saat itu. Pada tahun 1721, Peter I menggunakan
gelar Imperator (Kaisar). Dan sejak itu kedua gelar ini dipergunakan secara
bergantian di Rusia. Tetapi yang lebih banyak digunakan adalah gelar
Tsar sampai kejatuhannya pada tahun 1917.
Pada akhir pertengahan abad ke-19, Rusia berusaha bangkit mengejar
ketertinggalannya dari negara-negara Eropa lainnya. Rusia mulai mencoba
melakukan revolusi Industri yang sudah berkembang di negara Eropa lainnya
pada abad ke-18.
Dimasukkannya industrialisasi tidak diikuti dengan kesiapan manusia
pendukungnya. Banyak petani terutama petani yang tidak memiliki tanah,
kemudian beralih profesi ke bidang industrialisasi. Akan tetapi ternyata dunia
industri yang mereka harapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki kehidupan
mereka pada akhirnya tidak memberikan kemajuan yang berarti.  Hal ini menunjukkan
begitu tingginya kesenjangan pendapatan antara Rusia dengan negara Eropa
lain. Para pemilik modal di industri-industri Rusia sebagian besar berasal
dari pengusaha-pengusaha Eropa di luar Rusia, terutama Inggris.
Kehidupan rakyat yang berada dalam kemiskinan mendorong timbulnya
gerakan-gerakan untuk menentang pemerintahan Tsar yang feodal. Gerakangerakan
ini didukung oleh berbagai kalangan dalam masyarakat, seperti kaum
petani, buruh serta kaum intelektual. Munculnya aksi-aksi protes masyarakat
tersebut disikapi dengan keras oleh pemerintahan Tsar. Dengan menggunakan
kekuatan pasukan-pasukan tentaranya, Tsar berusaha mencoba menghentikan
perlawanan dengan cara-cara kekerasan. Para petani yang melakukan perlawanan
dicambuki, buruh-buruh yang memberontak dipecat, disiksa, dan dipenjarakan.
Sedangkan kaum intelektual yang umumnya terdiri atas para pemuda yang
revolusioner dibatasi geraknya dengan cara diasingkan ke Siberia dan bahkan
ke luar Rusia serta buku-buku yang dianggap memuat ide-ide yang
membahayakan dilarang dan dimusnahkan.
Pada tahun 1905, Rusia terlibat perang dengan Jepang. Peperangan tersebut
dimenangkan oleh Jepang. Kekalahan Rusia atas Jepang merupakan suatu
pukulan yang terberat dan sangat memalukan bagi Rusia. Selama ini ada suatu anggapan dan kepercayaan bahwa: ras kulit putih adalah ras yang
terunggul di dunia , tetapi dengan kekalahan Rusia tersebut membuktikan
bahwa ras kulit putih dapat dikalahkan oleh ras kulit berwarna. Bagi Jepang
dan negara-negara Asia lainnya, kemenangan tersebut sangat menggembirakan
dan dapat menggugah perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan dari
tangan penjajah, orang kulit putih. Sebaliknya bagi Rusia, kekalahan ini sangat
memalukan dan menunjukkan kelemahan Rusia.
Rakyat yang kecewa dengan kekalahan Rusia tersebut melakukan aksiaksi
untuk menunjukkan protes dan kekecewaan mereka terhadap pemerintahan
Tsar Nicholas II. Aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan rakyat Rusia diarahkan
di luar istana Musim Dingin. Aksi-aksi tersebut kemudian ditanggapi oleh
Tsar dengan menempatkan pasukan tentaranya yang kemudian melakukan
pembunuhan secara massal dan kejam terhadap para demonstran tersebut.
Minggu berdarah yang berlangsung di St. Petersburg itu kemudian dianggap
oleh rakyat Rusia sebagai suatu awal kebangkitan revolusi di Rusia. Bahkan
ada yang menganggap peristiwa ini sebagai Revolusi pertama Rusia.
Peristiwa kalahnya Rusia dalam peperangan dengan Jepang dan munculnya
aksi-aksi protes rakyat tidak membuat Tsar melakukan perubahan-perubahan.
Kemudian Tsar malah menyeret Rusia untuk ikut dalam kancah Perang Dunia
I yang pada saat itu sedang berkecamuk di Eropa, dengan menggabungkan
diri dalam pasukan Sekutu. Hal ini sebenarnya mendapatkan tentangan yang
sangat keras dari rakyat Rusia, tetapi Tsar seakan tidak mempedulikannya.
Sejumlah tentara muda dikirimkan ke kancah perang dunia dan akhirnya mereka
terbunuh secara sia-sia. Tidak kurang dari empat juta orang tentara Rusia
mati di kancah peperangan tersebut. Tentara Rusia yang frustasi akhirnya
melakukan desersi dan melarikan diri dari kancah peperangan. Rakyat yang
tidak ingin dirinya, anaknya, ataupun sanak keluarganya dikirim ke kancah
perang melakukan aksi sembunyi. Akibatnya banyak industri dan sektorsektor
ekonomi lainnya ditinggalkan. Terjadilah kekurangan pangan yang luar
biasa melanda Rusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar