Tampilkan postingan dengan label perang dunia ke 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perang dunia ke 2. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Israel Copycat Nazi’s Hitler?

TRAGEDI serangan tentara Israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Freedom Fotilla di perairan internasional pada Senin (31/5)membawa keprihatinan mendalam bagi penduduk muslim di dunia.
Misi itu mengangkut 10 ribu ton bantuan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza yang terkena blokade dan embargo Israel beberapa tahun ini. Sebanyak 700 relawan pro-Palestina bergabung dalam misi tersebut. Sebanyak 19 relawan tewas karena serangan Israel dan 36 lainnya luka-luka.
Aksi protes perbuatan keji Israel ini juga dilancarkan negara-negara non muslim misalkan Eropa, Asia, bahkan di dalam negeri Israel.
Mereka mengutuk penyerbuan terhadap enam kapal bantuan, termasuk kapal berbendera Turki Mavi Marmara yang saat itu membawa sekitar 600 relawan dan aktivis. Mereka menggelar protes di depan-depan kedutaan-kedutaan Israel.
Karena perbuatan Israel bukan sekedar soal agama, tapi sudah soal lebih luas kemanusiaan (humanitarian). Israel menembaki para relawan yang membantu kemanusiaan.
Apa yang dilakukan Israel–yang sebagian besar penduduknya warga Yahudi–tak jauh beda dengan aksi Adolf Hitler yang melakukan pembantaian terhadap warga Yahudi (Holocaust) pada era perang dunia II.
Holocaust atau Final Solution of the Jewish Question (solusi terakhir permasalahan Yahudi) merupakan aksi yang dijalankan pemerintahan Nazi dan pemegang kuncinya adalah perwira Jerman, Heinrich Himmler and Reinhard Heydrich.
Salah satu pondasi kebijakan sosial Hitler adalah konsep kemurnian ras (racial hygiene). Konsep ini didasarkan pad aide Arthur de Gobineau, akuntan Perancis, eugenics, pseudo (tiruan)-science dan teori sosial Darwinism. Semua itu diaplikasikan ke kehidupan bahwa ketahanan keharmonisan diperlukan kemurnian ras dan membunuh kehidupan yang tak pantas hidup ( “life unworthy of life).
Atas filosofi inilah holocaust dijalankan. Korban pertama adalah anak-anak yang cacat fisik dan mental. Pembunuhan itu masuk program Action T4.
Tak ada dokumen spesifik aksi ini diperintahkan Hitler. Tapi banyak bukti Hitler di belakang itu semua. Pada musim gugur 1941, Himmler dan Hitler memutuskan pembunuhan massal dengan gas. Dalam interogasi oleh inteljen Rusia yang dibuka 50 tahun kemudian, pembantu Hitler, Heinz Linge dan perwiranya Otto Gunsche mengatakan Hitler mengetahui dan menyetujui blueprints kamar gas pertama. Sekretaris pribadinya, Traudl Junge, juga bertestimoni Hitler tahu benar semua soal kamp-kamp kematian.
Untuk menghaluskan pelaksanaan Final Solution tersebut, digelar konferensi Wannese dekat Berlin pada 20 Januari 1942 yang dihadiri 15 perwira senior yang dipimpin Reinhard Heydrich dan Adolf Eichmann. Data dari hasil meeting merupakan bukti jelas soal rencana Holocaust. Pada 22 Februari, Hitler terekam berkata kepada koleganya, “Kita akan meraih kesehatan hanya dengan memusnahkan bangsa Yahudi.’’
Proyek holocaust pun dijalankan. Di antara tahun 1939 sampai 1945, pasukan elit Jerman SS, kolaborasi dengan oknum pemerintah yang didudukinya membunuh 11 sampai 14 juta warga tak berdosa, termasuk 6 juta bangsa Yahudi di kamp konsentrasi, ghetto dan eksekusi massal dengan kamar gas. Salah satu pusat pembunuhan massal terbesar adalah di komplek industri kamp pemusnahan di Auschwitz-Birkenau.
Saat ini, Israel Yahudi sepertinya cenderung meniru perbuatan orang yang membantainya pemimpin Nazi, Adolf Hitler. Jadi ada aksi meniru perbuatan atau copycat.
Istilah copycat sendiri diambil dari perilaku anak kucing yang meniru perilaku induknya. Copycat didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang menyerupai orang lain. Seringkali copycat berarti negatif karena sering juga diartikan sebagai menjiplak.
Dalam pembunuhan berantai istilah copycat kerap digunakan. Istilah ini juga kerap digunakan pada kejahatan seksual misalkan perbuatan seks sesama jenis atau homo. Kasus Robot Gedek, pelaku pemerkosa bocah-bocah lelaki yang sudah menerima hukuman mati–dia suka memperkosa bocah lelaki karena dulunya dia pernah mengalami kejadian serupa.
Saat bocah, dia diperkosa seorang lelaki dan ketika dewasa dia menjadi copycat meniru perbuatan si pemerkosa.
Berbeda dengan copycat, istilah role model atau idola memiliki arti lebih positif. Nyatanya, sosok idola memiliki faktor penting dalam menentukan rasa percaya diri seseorang. Profesor Lauren Steinberg dari Fakultas Psikologi Temple University dan penulis buku Beyond the Classroom mengatakan, rasa percaya diri dapat didefinisikan sebagai cara seorang individu beranggapan tentang dirinya sendiri.
Percaya diri juga dipandang sebagai perbedaan antara diri yang sebenarnya dengan sosok ideal. Hal itu diungkapkan Unnia L. Pettus, PhD, pengajar public relations sebagai asisten profesor di Howard University, sekaligus pemilik perusahaan Pettus & Associates.
Jika seseorang semakin menyerupai sosok ideal yang diingingkannya, mereka cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, ujar Pettus.
Profesor Susan Harter dari Fakultas Psikologi Denver University mengatakan, penerimaan yang tidak konsisten antara seseorang yang sebenarnya dan konsep diri yang ideal adalah penting. Ini karena kegagalan mencapai hal yang ideal dapat mengakibatkan sesuatu yang negatif.
Salah satu ciri sosok idola yang akan memengaruhi rasa percaya diri seseorang adalah jenis kelamin sosok idola tersebut. Hasil penelitian Jan M. Ochman dari Fakultas Psikologi Inver Hills Community College Amerika Serikat mengungkapkan, sosok idola dari jenis kelamin yang sama oleh seseorang kemungkinan akan berdampak lebih positif terhadap rasa percaya diri dibandingkan dengan sosok idola yang berbeda jenis kelamin. (doktertomi.com)
Dari permasalahan tersebut di atas, bisa jadi Israel meniru perbuatan Hitler karena ada dendam, benci yang terus dipendammya dan ditirunya dengan melakulam kezaliman terhadap warga Palestina, pemilik tanah yang kini diduduki Israel.
Kedua, Israel meniru Hitler bisa jadi karena diam-diam bangsa ini mengidolakan perbuatan Hitler–yang menindasnya. Mereka meniru sikap Hitler (ras arya), merasa menjadi bangsa pilihan seperti disebutkan di kitab sucinya. Mereka jadi arogan seperti Hitler—dan underestimate negara-negara lain termasuk Amerika–yang merasa menjadi polisi dunia.
Jadi bagaimana selanjutnya? Harus ada gerakan enough terhadap perbuatan Israel. Idealnya PBB melalui Dewan Keamanan menekan Israel agar menyudahi aksinya mencaplok tanah Palestina. Bila nekad, Israel bisa diembargo ekonomi. Tapi pemimpin negara mana yang mampu menekan PBB–karena sendi-sendi ekonomi di negara adi kuasa di dunia, yakni Amerika Serikat masih dikuasai orang-orang Yahudi.
Tapi jangan pantang menyerah, ibaratnya batu saja terkena air setiap hari bisa berlubang. Bila bangsa ini terus memperhatikan dan turut memperjuangkan nasib warga Palestina, bisa jadi Allah SWT akan membuka jalan kesejahteraan warga Palestina.
Tapi yang patut diperhatikan juga, menurut informasi di dalam negeri Israel sendiri antar umat beragama termasuk Islam hidup berdampingan secara damai. Mereka bebas bekerja dan merayakan hari kebesaran agamanya masing-masing. Hanya saja bagi pemerintah setempat juga melarang turis mengunjungi daerah-daerah tertentu karena kerap terjadi serangan dari warga Palestina.
Bila permasalahanya demikian, bisa jadi hanya para pemimpin Israel yang cenderung berbuat kejahatan kemanusiaan khususnya terhadap warga Palestina. Betulkah?
Namun di mana pun tempat di dunia ini kejahatan terhadap kemanusiaan adalah kejahatan perang yang tak bisa dimaafkan. Semoga, Tuhan segera menunjukan jalan perdamaian dan solusi mengakhiri penderitaan warga Palestina dan menyudahi kesombongan Israel.
READ MORE - Israel Copycat Nazi’s Hitler?

Andai Hitler masih hidup,, apa yang sedang dia rencanakan?

ni adalah pertanyaan penting yang seharusnya bisa dijawab dengan tepat, karena memang kenyataan sejarah mencatat bahwa Hitler itu mati bunuh diri didalam bunkernya dan pembantu2nya 5 orang menjadi saksi hidup yang memberi kesaksian.
Sewaktu mayatnya diperiksa ternyata Hitler itu menelan racun Cyanida dan  kemudian menembak kepalanya. Anehnya, bunker yang sekecil itu berisi 5 pembantu2 Hitler tetapi tak satupun ada yang mendengar suara letusan pistol. Inilah merupakan tanda tanya yang tak pernah terjawab.
Setiap pembantu Hitler tahu bahwa Hitler membuat banyak penyamaran dirinya, banyak orang2 yang menyerupai Hitler disarukan sebagai Hitler untuk melindungi dan menyelamatkan Hitler sendiri dari pembunuhan.
Apa alasannya Hitler bunuh diri?
Pembantunya mengira bahwa Hitler tidak mau tertawan dan dibunuh seperti nasib rekannya Mussolini dari Italia. Padahal Hitler masih banyak pilihan, dia bisa lari menyelamatkan diri dari terjangan Russia dan sekutu, dia juga masih bisa menyerah untuk ditangkap hidup2.
Amerika tidak punya konflik politik sebelumnya dengan Hitler, bahkan sebelum Hitler melakukan agressinya ke Eropah, dia telah melakukan perjanjian rahasia dengan Amerika dan menerima pernyataan Amerika yang tidak ingin terlibat dalam perang dunia kedua ini, namun dibalik perjanjian rahasia ini Amerika akan memberi support perlengkapan senjata dan mesin2 yang dibutuhkan Hitler.
Ada hal yang sangat penting yang tidak diketahui umumnya orang2 di Indonesia, bahwa hubungan Amerika-Jerman sebenarnya sangat erat lebih erat dibandingkan hubungannya dengan Inggris dan Perancis. Amerika sudah berulangkali terlibat perang dengan Inggris dan Perancis dan yang membantunya justru Jerman.
Demikian besar bantuan Jerman kepada Amerika sehingga banyak industri2 penting di Amerika ini sudah berdiri sebelum perang dunia kedua adalah milik industrialis2 Jerman. Website dibawah ini hanya contoh saja nama2 perusahaan yang membantu Jerman dalam perang kedua dulu. Lihat ke http://www.karenlyster.com/hitler.html .
Dari bukti2 yang begitu kuatnya, maka sukar untuk membantah bahwa Amerika terjun kedalam perang dunia kedua membantu Inggris disebabkan karena Jerman sudah tak tertolong dan siap dicaplok komunis Soviet. Itulah alasan yang paling penting bahwa Amerika harus berlomba dengan Uni-Soviet untuk menduduki Jerman.
Itulah sebabnya, apabila Hitler tertangkap oleh tentara Amerika, tidak akan mungkin dia dibunuh, bahkan juga tidak ada alasan untuk menghukum dirinya, Hitler tidak pernah bersalah kepada Amerika.
Bahkan, Jepang yang telah lebih dulu memerangi Amerika dengan menghancurkan Pearl Harbor tanpa pernyataan perang, setelah berhasil ditaklukkan, ternyata kaisar Hirohito yang seharusnya ditawan dan dihukum oleh Amerika malah tidak diganggu selain cuma diminta menandatangani tanda menyerah. Apalagi Hitler yang justru sobat dekat dengan Amerika dan rakyatnya.
Semua yang saya tulis diatas ada bukti2 sejarahnya dan kebanyakan orang2 di Indonesia juga mengetahuinya tetapi tidak jelas alasannya.
Setelah Amerika berhasil menduduki Jerman, semua gestapo ditangkap termasuk ahli atom Jerman ditangkap pasukan Amerika. Ternyata anggauta2 Gestapo ini bukan dihukum atau dieksekusi oleh Amerika melainkan diselamatkan, diberi surat2 palsu untuk bisa tinggal di Argentina dan negara2 Amerika latin lainnya dengan identification yang baru.
Berbeda dengan anggauta Gestapo, para ahli bomb atom dan ahli2 roket di Jerman dibawa ke Amerika dan bekerja untuk Amerika menciptakan pesawat ulang alik yang sekarang membawa Amerika sebagai negara yang paling maju didunia ini.
Dengan semua alasan2 yang saya sebutkan diatas, sangat tidak mungkin Hitler ketakutan sehingga bunuh diri. Banyak spekulasi yang menyatakan bahwa Hitler keluar bunkernya dan berjalan bersama pengungsi2 menuju Berlin Barat dan diselamatkan tentara Amerika kesuatu tempat yang dirahasiakan. Itulah sebabnya Amerika lebih berhasil dalam mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Hitler di Jerman karena diberi petunjuk oleh Hitler sendiri.
Sebaliknya tentara Russia yang sudah seminggu lebih dulu menduduki Berlin malah tidak mendapatkan warisan apapun juga. Warisan Hitler inilah yang membawa Amerika sekarang menjadi negara superpower.
Secara ideologis, Amerika lebih menyukai Hitler katimbang Inggris, Perancis dan kebanyakan negara2 Eropah lainnya. Alasannya jelas, Amerika bukan negara Imperialis. Amerika memusuhi negara2 Imperialis. Dan Hitler satu2nya negara di Eropah yang berhasil menjadikan negaranya sebagai negara sosialis nasional yang bebas dari belenggu imperialisme.
Banyak orang di Indonesia pusing dengan pernyataan ini, karena mereka buta akan istilah “Imperialisme” ini berasal dari kata “Imperial” yaitu kerajaan. Seluruh dunia waktu itu sebelum lahirnya Amerika adalah merupakan kerajaan2 yang semua rajanya cuma mengejar keserakahan pribadi dan keluarganya saja tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat mengabdi kepada raja bukan raja yang mengabdi kepada Rakyat.
Amerika inilah satu dari begitu banyak korban Imperialisme dan Amerika memerangi Inggris dan Perancis dalam rangka melepaskan diri dari belenggu Imperialisme dan mendirikan negara Demokratik seperti yang kita kenal sekarang ini.
Hitler dengan bantuan rahasia dari Amerika juga menumbangkan reich (raja) Jerman. Hitler adalah pemimpin Jerman pertama di Eropah yang bukan raja yang menerapkan kepada rakyatnya pemilu berkala. Hitler akhirnya terjun dalam kancah perang dunia kedua juga disebabkan tekanan negara2 imperialisme sehingga menghancurkan ekonomi Jerman dan juga industri Jerman.
Bung Karno sangat tertawan kepada jiwa kepemimpinan Hitler, inilah satu2nya pemimpin dunia yang menjadi idola Bung Karno. Sedangkan jiwa nasionalisme yang anti-imperialisme ditimbanya dari sejarah Amerika. Tidak bisa dibantah, bahwa Amerika sebagai superpower sekarang berhasil menciptakan dunia yang damai bebas dari peperangan, penjajahan, dan kerakusan raja2 dizaman dulu.
Kalo sekarang anda susah menemukan negara Kerajaan, maka dizaman sebelum lahirnya Amerika malah tidak ada negara seperti sekarang karena semuanya adalah kerajaan atau disebut sebagai “Imperial” yang melahirkan imperialism.
Dua hal yang selalu dikenang Bung Karno, yaitu Hitler dan Amerika.
READ MORE - Andai Hitler masih hidup,, apa yang sedang dia rencanakan?

Senin, 16 Mei 2011

Anggapan Keliru Mengenai Nazi

1. Swastika adalah Jerman Nazi, Jerman Nazi adalah Swastika

Ini mungkin salah satu dari sekian kekeliruan yang kerap terjadi. Jerman Nazi memang berlambang swastika, tapi swastika tidak serta-merta hanya dimiliki oleh Jerman Nazi. :) Swastika sendiri diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, pertama kali diperkenalkan di India dalam penyebaran agama Hindu — dan kemudian Buddha — di Asia sekitar tahun 3000 SM. Kemudian swastika mulai memasuki region Eropa sekitar tahun 400-350 SM dan mulai dikenali sebagai simbol keagamaan maupun animisme-dinamisme sebelum agama Kristen mendatangi kawasan Eropa.

Setelah agama Kristen menjadi agama mayoritas di Eropa, keberadaan swastika perlahan-lahan memudar hingga hilang sepenuhnya, sebelum dia kembali muncul lagi pada abad ke-19. Puncaknya, lambang swastika ini diadopsi oleh Adolf Hitler sebagai lambang Jerman Nazi dengan dan sejak itu menimbulkan stigma di kalangan dunia. Istilah yang digunakannya kala itu adalah Hakenkreuz, yang berarti “salib berkait”, searti dengan istilah yang digunakan Jepang dengan sebutannya yaitu Kagi juuji.


Mengenai alasan Hitler sendiri mengapa ia memilih swastika sebagai lambangnya adalah karena ia melihat swastika sebagai simbolisasi keberhasilan ras Arya (mengingat ras Arya pertama kali datangnya dari India), dan juga lambang kreatifitas serta anti-Semitik — seperti yang sudah dijelaskan Hitler dalam bukunya berjudul Mein Kampf. Swastika dalam partai Nazi juga dikenali sebagai simbol yang membuat dan menjalani kehidupan (das Symbol des schaffenden, wirkenden Lebens) serta pelambangan ras Jermanisme (Rasseabzeichen des Germanentums).
.

2. Naziisme adalah Komunisme

Ini salah satu miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat, terutama dalam masyarakat Indonesia. Mungkin gara-gara kemiripan Naziisme yang bersifat totalitarian, juga ketakutan masyarakat Indonesia terhadap komunisme hingga sekarang, sampai akhirnya muncul anggapan begini. Saya tegaskan dengan sangat, Nazisme itu sama sekali bukan komunisme.


Dilihat dari latar belakangnya, Adolf Hitler justru membenci komunisme (dan Yahudi) karena menganggap mereka sebagai penghianat bangsa Jerman dan penyebab kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I karena adanya konspirasi antara mereka dengan yang lain.


Dari ideologi dasarnya sendiri pun sebenarnya dapat dilihat perbedaan yang cukup jelas. Nazisme adalah ideologi politik sayap kanan atau right wing, bentuk konservatif yang mendasar pada keseragaman. Sementara komunisme adalah ideologi politik sayap kiri atau left wing, bentuk radikalis yang konon lebih cenderung ke perseteruan dan konflik. Meskipun Hitler memulai pendirian partai Nazi sebagai pemegang kekuasaan dengan percobaan kudeta (yang kurang berhasil), hal itu tidak serta merta membuatnya sebagai partai komunis. Hitler dalam Mein Kampf menyatakan dengan jelas bahwa Nazisme adalah anti-komunisme.
.

3. Keseluruhan Jerman Nazi adalah Sekumpulan Maniak Sadis


Mendengar kata Jerman Nazi mungkin identik dengan 3 kata: fasis, sadis, dan rasis. Dan yang paling sering didengungkan adalah sadis. Padahal tidak sepenuhnya seluruh Jerman Nazi begitu. :| Serdadu-serdadu Jerman Nazi juga masih manusia; mereka pada dasarnya juga masih menyukai kehidupan harmonis bersama. Saya rasa ini masih merupakan generalisasi yang terlalu cepat untuk menganggap keseluruhan Jerman Nazi sebagai noda hitam kelam; mungkin rada mirip dengan menganggap invasi Amerika Serikat ke Irak itu adalah kesalahan seluruh rakyatnya, dan kemudian dengan serta-merta membenci Amerika Serikat secara total dan memberinya label-label buruk yang mengerikan. :?


Padahal kalau mau ditilik lebih jauh, banyak tokoh Jerman Nazi yang kurang setuju atas beberapa keputusan yang diambil pejabat kalangan atas semisal Himmler atau Goebbels. Sebut saja yang paling terkenal, Erwin Rommel, yang menurut saya pribadi tindakannya justru lebih strategis dan lebih bijak dibanding pejabat kalangan atas lainnya. Kemudian ada Heinz Guderian, Otto von Stuepnagel, juga Claus von Stauffenberg yang menjadi kunci dalam plot 20 Juli menentang Hitler — meskipun menurut saya sendiri mungkin plot itu masih agak terlalu terburu-buru.


Oke, mungkin dalam kemiliterannya sendiri Jerman Nazi memang memiliki The Snipers 10 Commandments yang cukup berbau fanatis. Tapi itu tidak serta merta membuat mereka sebagai setan sadis yang maniak dan haus darah, ‘kan? Justru menurut saya itu bisa menjadi alat picu bagi dorongan moral sang prajurit. :mrgreen:
.

4. Schutzstaffel adalah Unit Tentara Secara Sepenuhnya

Bicara soal peran Schutzstaffel — yang biasa disingkat dengan SS — dan Waffen-SS serta perannya dalam kekuatan militer Jerman, diperlukan pengetahuan mengenai sejarah organisasi ini terlebih dahulu.


SS pertama kali dibentuk pada tahun 1925, ketika Nazi waktu itu masih berupa partai yang bersaing dengan partai lainnya, sebagai unit pengawal pribadi Adolf Hitler yang hanya beranggotakan 8 orang. Seiring dengan menguatnya kekuatan partai Nazi saat itu, maka kuantitas dalam SS ditambah hingga membentuk organisasi dengan skala yang lebih besar. Akhirnya, pada tahun 1933 — ketika Nazi sudah memegang kendali sebagai partai politik tunggal — SS sudah beranggotakan lebih dari 100.000 orang, dan kemudian mulai mencoba menyingkirkan organisasi Sturmabteilung (SA) hasil bentukan Ernst Roehm yang berisi anggota-anggota masyarakat kelas menengah ke bawah, karena SS masih dianggap sebagai organisasi second-class yang berkedudukan dibawah SA.


Tahun 1934, SS berhasil menggantikan SA dengan menyingkirkan mereka dalam suatu insiden yang dikenal dengan nama “Malam Pisau Panjang” atau Night of the Long Knives (dalam operasi militer, dikenal juga dengan nama Operation Hummingbird). Sejak peristiwa ini, pengorganisasian SS mengalami perubahan besar. SS terhitung sebagai deretan eksekutif politik, juga di saat bersamaan bertanggung jawab atas pengurusan kamp-kamp konsentrasi dengan nama Waffen-SS (Schutzstaffel bersenjata). Barulah nantinya, seiring dengan panasnya Perang Dunia II, SS diperhitungkan sebagai organisasi militer yang keberadaannya bisa dibilang mampu mengimbangi — bahkan menyaingi — Wehrmacht, angkatan bersenjata Jerman.


Jadi bisa disimpulkan bahwa SS tidak langsung muncul sebagai unit militer, namun diawali dengan organisasi kecil yang dibuat untuk kepentingan politik sebagai pengawal pribadi Hitler.
.

5. Jerman Nazi Hanya Beranggotakan Ras Jerman Murni


Mengingat sikap Jerman Nazi yang cukup rasis, serta kebanggaan besarnya terhadap ras Arya, mungkin menimbulkan anggapan bahwa di dalam Jerman Nazi hanya terdiri atas ras-ras Arya Jerman murni. Tapi pada kenyataannya, terutama dalam struktur militer Jerman Nazi, secara ras dan agama anggotanya cukup bersifat heterogen dan bukannya homogen.


Logikanya ini bisa terjadi karena untuk mewujudkan angkatan bersenjata solid dan kuat yang hanya berisi ras Arya saja dalam keadaan Perang Dunia dirasa cukup sulit. Dari sisi logistik dan kekuatan moral juga mungkin susah untuk diwujudkan. Maka dari itu pada akhirnya ras-ras selain Arya juga diperbolehkan bergabung dalam angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht), bahkan unit khusus Waffen-SS yang pada awalnya hanya berisi orang-orang tertentu.


Dalam perkembangannya, berbagai negara yang bahu-membahu dengan Jerman sebagai sukarelawan dalam Perang Dunia II juga bisa jadi penyebab timbulnya heterogenitas dalam kekuatan militer Jerman. Sebut saja dari India, Rusia, Ukraina, maupun Bosnia yang mayoritas berisi Muslim yang tidak betah situasi kacau saat itu.
.

6. Propaganda Joseph Goebbels yang Membenarkan Kebohongan

Sebarkan berita kebohongan secara terus menerus, kemas dengan cara yang terbagus, niscaya ia akan menjadi kebenaran.

Mungkin ada yang pernah dengar mengenai kutipan yang datang dari Joseph Goebbels, menteri propagana Jerman Nazi, yang ini. Versi Inggrisnya, “If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” Dari sini kesannya Goebbels seperti membenarkan bahwa cara untuk meyakinkan orang itu bisa datang dari kebohongan. Tapi sebenarnya, kutipan itu masih bersifat setengah-setengah. Dalam artian, Goebbels tidak membenarkan cara itu.


Sebenarnya kutipan Goebbels ini justru sedang menyindir Winston Churchill yang memberikan kebohongan-kebohongan tanpa bukti melalui New York Times mengenai situasi saat itu, dan bukannya justru sedang membicarakan tekniknya dalam berpropaganda. Kalau teknik propaganda itu sendiri ia justru lebih menekankan bagaimana cara persuasif untuk bisa meyakinkan orang apa yang dipropagandakan; the point of a political speech is to persuade people of what we think right. )


Jadi bisa dibilang kalau Goebbels itu sedang menggunakan gaya bicara satir untuk menyindir Churchill, dan praktisi “taktik kebohongan” itu justru sebenarnya Winston Churchill. Bukannya Joseph Goebbels.
.

7. Adolf Hitler adalah Seorang Occult


Sebagian pemimpin Jerman Nazi, terutama Heinrich Himmler, mempunyai keyakinan lebih kepada hal-hal yang berbau gaib dan mistik dibandingkan keyakinan mereka terhadap agama. Hal ini dapat terlihat dalam ekspedisi Himmler mencari tradisi dan kultur ras Arya hingga ke Tibet, pemasangan tradisi-tradisi mistik yang rada aneh, dan lain sebagainya. Singkatnya, sebagian dari Jerman Nazi memang menunjukkan adanya gejala-gejala occultism di dalamnya — meskipun hal itu memang diakui hanya sebagai aspek minor dan bukan mayor dalam perkembangannya.
Tapi sebenarnya Hitler sendiri tidak terikat dengan berbagai macam ide-ide esoterisrelijius yang kritis; kurang menyukai Kristen konservatif namun tetap mempercayai Kristus serta tradisi-tradisi keagamaan Kristen Jerman. semacam itu, yang mana sering disalahperkirakan karena Himmler membentuk organisasi esoteris dengan membawa nama Hitler. Hitler lebih tepat kalau disebut sebagai seorang


Pernah juga suatu ketika Hitler mengaku menaruh kekaguman terhadap tradisi militer Islam kepada Albert Speer. Jadi dia bukan seorang yang lebih percaya kepada hal-hal mistik semacam Himmler, tapi bisa jadi dia cukup menghargai kultur-kultur dan budaya masa lalu — terlihat dengan ketertarikannya pada Holy Roman Empire.
.

8. Seluruh Anggota Jerman Nazi Telah Diadili Dengan Seadil-adilnya Dengan Hukuman Mati Setelah Perang Dunia II


Melalui Nuremberg Trials atau Pengadilan Nuremberg, katanya. Tapi kalau mau bicara konsep “seadil-adilnya,” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Rata-rata pengadilan yang dilakukan masih berdasarkan pada Siegerjustiz, dimana para pemenang perang lah yang dijadikan acuan dalam menentukan konsep keadilan. Beberapa hal lainnya, seperti pengadilan tidak seimbang atas kejahatan terhadap kemanusiaan bagi para opsir yang hanya menuruti perintah atasan juga bermasalah. Namun, memang, bicara masalah keadilan ini memang masih multi-tafsir. Oleh karenanya saya tidak akan membahasnya secara lebih spesifik lagi.


Mari beralih ke poin yang diusung sebagai kata keterangan dalam pendapat diatas, yaitu, “…dengan hukuman mati.” Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya tepat. Sebagian opsir Jerman Nazi yang berhasil tertangkap dan akan diproses dalam Pengadilan Nuremberg justru mengakhiri hidupnya sendiri dengan racun sianida. Contohnya yang paling mudah adalah Heinrich Himmler; terkenal dengan kutipan terakhirnya yang berbunyi, “Ich bin Heinrich Himmler!”


Lalu juga tidak semuanya dengan serta-merta diproses ke hukuman mati. Beberapa anggota Jerman Nazi yang beruntung mendapat pengadilan yang adil, diberikan kompensasi dalam Pengadilan Nuremberg dan tidak perlu mengakhiri nyawanya dalam derita penjara yang menyedihkan maupun diakhiri nyawanya di lapangan eksekusi. Mereka dapat menikmati indahnya hidup dalam sisa umur mereka. Misalnya saja Kurt Waldheim, mantan serdadu Wehrmacht, yang di kemudian hari sempat menjadi diplomat Austria dan Sekjen PBB — meskipun memang menuai banyak kritik.


Selain itu, mengacu pada nasib para mantan Jerman Nazi setelah Perang Dunia II, ada beberapa dari mereka yang mampu melarikan diri. Salah satu faktor penyebabnya bisa jadi karena ODESSA, organisasi bentukan Otto Skorzeny, mantan petinggi Waffen-SS yang sempat jadi agen Mossad, yang membantu para mantan anggota Jerman Nazi untuk melanjutkan hidup mereka — entah berusaha kabur dari kejahatan perang atau untuk menghindari prasangka buruk dari dunia internasional padahal mereka tidak bersalah. Meskipun begitu, sebenarnya ratlines (istilah yang merujuk ke jalur kabur para anggota negara fasis di PD II) yang digunakan para mantan anggota Jerman Nazi ini justru kebanyakan bukan dibentuk oleh ODESSA, melainkan atas bantuan dari pemerintah negara-negara tertentu dan institusi internasional.


Jadi, dengan ini bisa disimpulkan bahwa tidak semua anggota Jerman Nazi dihukum mati setelah Perang Dunia II, namun ada yang bunuh diri dan masih hidup — entah dengan jalan legal maupun ilegal. Pengadilan Nuremberg, ODESSA, Amerika Serikat, Timur Tengah, Otto Skorzeny, dan Mossad hanya sebagian dari yang mempengaruh nasib para mantan anggota Jerman Nazi.


sumber :http://deathlock.wordpress.com/2007/12/16/anggapan-keliru-mengenai-jerman-nazi/
READ MORE - Anggapan Keliru Mengenai Nazi

Sejarah NAZI di Indonesia yang terlupakan

Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan

BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan "kawan sejawatnya", Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.

Ternyata perwira kapal dari U-Boot ini meluncur ke Indonesia dibawah komando Angkatan Laut, Karl Doenitz. Tujuan utama pemindahan perwira kapal selam U-Boot di Indonesia untuk membantu sekutu jauh Nazi, Jepang. Namun seiring Jepang ditaklukan USA, para perwira angkatan laut ini tinggal di Bogor.

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana.


Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.

Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka "dijaga" oleh orang Jerman. "Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata,orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan.Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu," kata Zahorka.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.

Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api.

Ini juga cuplikan wawancara dari "saksi hidup" yang menghadiri pemakaman perwira Nazi tersebut :

Warga Kampung Arca Domas, Abah Sa'ad (76 th), seorang saksi hidup peristiwa penguburan tentara Jerman di kampungnya, Oktober 1945. Saat itu, usianya 15 tahun. Ia ingat, prosesi pemakaman dilakukan puluhan tentara Nazi Jerman secara kemiliteran. Peristiwa itu mengundang perhatian warga.

"Waktu itu, masyarakat tidak boleh men-dekat. Dari kejauhan, tampak empat peti mati diusung tentara Jerman, serta sebuah kendi yang katanya berisi abu jenazah. Tentara Jerman itu berpakaian putih, dengan dipimpin seorang yang tampaknya komandan mereka karena menggunakan topi pet," tuturnya.

Sepengetahuan Abah Sa'ad, mulanya, makam tentara Jerman itu hanya ditandai nisan salib biasa, sampai kemudian ada yang memperbaiki makam itu seperti sekarang.

Keasrian dan kebersihan makam tersebut tidak lepas dari peran penunggu makam, Mak Emma (65) yang dibiayai Kedubes Jerman dua kali setahun. " Biasanya, setiap tahun ada warga Jerman yang menjenguk makam pahlawan negaranya itu," ujarnya.

Namun, dia kurang tahu sejarah makam itu karena baru diboyong suaminya (pensiunan karyawan Perkebunan Gunung Mas) 10 tahun lalu. Ia meneruskan pekerjaan suaminya (alm.) menjadi kuncen.
Selama di Asia Tenggara, mereka melindungi Indonesia dari gempuran kapal perang sekutu. Karena kerugian yang ditimbulkan oleh U-Boot ini sangat menguntungkan Indonesia. Dan juga, mesin tik yang dipakai Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi adalah mesin tik Angkatan Laut Nazi
READ MORE - Sejarah NAZI di Indonesia yang terlupakan

Minggu, 01 Mei 2011

Runtuhnya Komunisme dan Uni Soviet

Akibat berbagai perang yang terjadi di dunia ini, dari perang dunia I hingga perang dunia II, dari perang agama hingga perang saudara, banyak negara besar yang mendapatkan aksi disintegrasi. Salah satunya adalah Uni Soviet. Runtuhnya Uni Soviet dilatarbelakangi oleh krisis (politik, ekonomi, sosial), juga konflik etnis. Krisis politik di Uni Soviet, disebabkan oleh Leninisme, suatu sistem yang mengacu pada tokoh penting Soviet yaitu Lenin. Krisis di Uni Soviet terjadi karena keborosan ekonomi, keterbelakangan teknologi dan sistem hegemoninya yang mulai tertinggal dari negara-negara penganut sosialis-komunis.


Krisis sosial budaya di Uni Soviet terjadi karena adanya pembagian kelas dalam kehidupan masyarakat Uni Soviet, rendahnya kualitas kehidupan masyarakat Uni Soviet, serta tidak diperbolehkan berkembangnya kreativitas masyarakat oleh pemerintah Uni Soviet.

Secara khusus, sistem yang diberi nama Glasnost dan Perestroika yang dicanangkan oleh presiden Gorbachev merupakan pemicu bagi meledaknya revolusi sosial di negara-negara Eropa Timur. Glasnost dan Perestroika membuat dunia komunis meragukan sistem sosial-komunis mereka untuk dapat tetap menjawab tantangan zaman. Konflik etnis di Uni Soviet tumbuh dari kesadaran akan eksistensi kelompoknya.

Gorbachev terlambat dalam menyadari pentingnya permasalahan etnis, sehingga sudah telanjur banyak terjadi kerusuhan, demonstrasi dan protes dari etnis-etnis di beberapa tempat di Uni Soviet yang terjadi secara berturut-turut, namun sporadis. Runtuhnya Uni Soviet terjadi setelah satu persatu republik-republik di Uni Soviet melepaskan diri dari USSR.

Banyak cara telah dilakukan Gorbachev untuk mencegah disintegrasi Uni Soviet, namun gagal. Pemerintah Uni Soviet berakhir ditandai dengan pengunduran diri Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev pada tanggal 25 Desember 1991 dan pembentukan CIS oleh pemimpin Rusia, Boris Yeltsin. Runtuhnya Uni Soviet yang menandai matinya komunisme dan berakhirnya Perang Dingin, membawa konsekuensi yang sangat nyata bagi perpolitikan dunia. 
 

Komunisme sudah tidak memiliki kekuatan sosial seperti sebelum runtuhnya Uni Soviet. Pasca Perang Dingin mulai berkembanglah pemikiran sosialisme demokratik yang bertujuan mengoreksi kesalahan sosialisme-komunisme Uni Soviet dan membangun konsep alternatif sosialisme dalam hubungan dengan demokrasi sosial.

Runtuhnya sosialisme-komunisme menyebabkan sistam yang lainnya, yaitu liberalisme-kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang berjaya bahkan hingga saat ini. Ada pula pemikir-pemikir lainnya yang mempunyai prediksi berbeda tentang konsep perpolitikan pasca Perang Dingin dan mengemukakan alternatif dari segala kelemahan sistem liberal agar tetap bertahan dan tidak termakan zaman.

Itulah alasan mengapa negara Uni Soviet kini sudah tiada dan berganti nama menjadi Rusia. Sejarah negara Rusia diawali dengan perpindahan bangsa-bangsa Skandinavia yang dikenal sebagai bangsa Varangia yang dipimpin oleh tokoh semilegendaris Rurik yang menyeberangi Laut Baltik serta pada tahun 862 M memasuki kota Novgorod dan memerintah di sana.

Pada tahun 882 ia menguasai Kiev, kota Slavia yang berkembang menjadi pusat perdagangan antara Skandinavia dan Konstantinopel. Pada tahun 989 Vladimir I meluaskan wilayahnya hingga Kaukasus dan Laut Hitam serta mengambil ajaran Gereja Ortodoks Yunani. Kerajaan Kiev Rusia berakhir setelah serangan Mongol pada tahun 1237 oleh Batu Khan, cucu Genghis Khan.

Selanjutnya bangsa Mongol dikalahkan oleh Dimitri Donskoy pada tahun 1380 dengan kemenangan di Kulikovo. Kemudian daerah-daerah yang tercerai berai disatukan kembali oleh Ivan IV; ia menaklukan Kazan (1552), Astrakhan (1516) serta menguasai Siberia. Pemerintahan dilanjutkan oleh penerusnya sampai wangsa Romanov naik tahta yang diawali dengan diangkatnya oleh Michael Romanov sebagai Tsar (1613).

Dinasti Romanov berkuasa selama 304 tahun hingga tahun 1917 dengan Tsar Nikolai II sebagai tsar terakhir. Pada bulan Februari 1917 dibentuk Pemerintahan Sementara di bawah Pangeran Lyvov dan Alexander Kerensky sampai 25 Oktober 1917, saat pemerintahan tersebut digantikan Pemerintahan Revolusi Bolshevik oleh Vladimir Ilyich Lenin.

Pada periode selanjutnya, pemerintahan dilanjutkan secara diktator oleh Josef Stalin (1922) yang mewujudkan Uni Soviet (Soviet berarti Dewan) dengan bergabungnya negara-negara di sekitar Rusia. Pemerintahan Uni Soviet berakhir setelah pada tanggal 25 Desember 1991 Presiden Mikhail Gorbachev mengundurkan diri serta berkibarnya bendera tiga warna Rusia di Kremlin.
READ MORE - Runtuhnya Komunisme dan Uni Soviet